Selasa, 14 Januari 2014

Divergent Zone in Iceland



Divergent plate boundaries atau batas lempeng divergen di daerah Islandia terjadi karena pergerakan dua buah lempeng yang bergerak saling menjauh satu sama lain yaitu lempeng Eurasia dan lempeng Amerika Utara. Hasil dari pergerakan lempeng yang saling menjaug tersebut menciptakan gunung berapi, sumber panas bumi, dll.  Islandia terletak di mana aliran astenosfer bawah berinteraksi dengan batas lempeng Atlantik timur, dan bercampur dengan plume. Produktivitas vulkanik yang tinggi di atas plume menghasilkan kerak tebal yang terangkat keatas karena gaya tekanan dari bawah permukaan bumi yang berasal dari arus konveksi. Sehingga daratan Islandia naik secara dinamis.

Arus konveksi yang terjadi pada lapisan astenosfer tetap berlangsung dari waktu ke waktu. Hal ini menyebabkan pergerakan lempeng terus berlangsung. Pada daerah pemekaran lantai dasar samudera, arah pergerakan lempeng semakin menjauh dari zona divergen. Dengan demikian gunung-gunung berapi yang terbentuk di daerah batas lempeng divergen tidak meliliki ketinggian yang terlalu tinggi. Hal itu dikarenakan pada daerah batas lempeng divergen material yang memiliki suhu tinggi yang keluar dari celah retakan akan bergerak menjauhi pusat retakan dengan diikuti oleh penurunan suhu. Materi yang semakin jauh akan semakin dingin mengakibatkan perlapisannya akan semakin berat karena densitasnya bertambah. Proses kejadian diatas terus-menerus terjadi. Sehingga hal itulah yang menyebabkan mengapa gunung berapi di zona batas divergen tidak terlalu tinggi.
Islandia yang berada di zona pemekaran samudra tentu memiliki sumber panas bumi. Panas bumi adalah sumber energi panas yang terkandung di dalam air panas, uap air, dan batuan bersama mineral ikutan dan gas lainnya yang secara genetik semuanya tidak dapat dipisahkan dalam suatu sistem panas bumi dan untuk pemanfataannya diperlukan proses penambangan . Panas bumi merupakan sumber energi panas yang terbentuk secara alami di bawah permukaan bumi. Sumber energi tersebut berasal dari pemanasan batuan dan air bersama unsur-unsur lain yang dikandung panas bumi yang tersimpan di dalam kerak bumi. Air tanah yang terjebak di dalam batuan yang kedap dan terletak di atas dapur magma atau batuan yang panas karena kontak langsung dengan magma, otomatis akan memanaskan air tanah yang terletak diatasnya sampai suhu yang cukup tinggi        (100 - 250 ᵒC). Sehingga air tanah yang terpanaskan akan mengalami proses penguapan. Apabila terdapat rekahan atau sesar yang menghubungkan tempat terjebaknya air tanah yang dipanaskan tadi dengan permukaan maka pada permukaan kita akan melihat manifestasi termal. Salah satu contoh yang sering kita jumpai adalah mata air panas, selain solfatara, fumarola, geyser yang merupakan contoh manifestasi thermal yang lain. Uap hasil penguapan air tanah yang terdapat di dalam tanah akan tetap tanah jika tidak ada saluran yang menghubungkan daerah tempat keberadaan uap dengan permukaan. Uap yang terkurung akan memiliki nilai tekanan yang tinggi dan apabila pada daerah tersebut kita bor sehingga ada saluran penghubung ke permukaan, maka uap tersebut akan mengalir keluar. Uap yang mengalir dengan cepat dan mempunyai entalpi inilah yang kita mamfaatkan dan kita salurkan untuk memutar turbin sehingga dihasilkanlah energi listrik.

Bumi yang kita tempati disusun oleh berbagai jenis batuan. Mempelajari batuan merupakan pengetahuan dasar untuk mempelajari geologi serta untuk mengetahui sifat dan sejarah bumi kita. Batuan adalah agregat padat yang terdiri dari mineral-mineral, gelas, ubahan material organik atau kombinasi dari komponen-komponen tersebut yang terjadi secara alamiah. Kerak bumi bersifat dinamis dan merupak tempat berlangsungnya berbagai proses yang mempengaruhi proses yang mempengaruhi  pembentukan berbagai jenis batuan.
Batuan biasanya terdiri dari berbagai macam mineral. Ada tiga jenis utama batuan: batuan beku, batuan sedimen dan batuan metamorf. Islandia terutama terdiri dari batuan beku, batuan sedimen hanya 8-10 % dari volume Islandia, dan tidak ada batuan metamorf yang terdapat di pulau itu. Batuan beku diklasifikasikan berdasarkan dua variabel independen, komposisi kimia dari magma dimana mereka mengkristal dan kondisi eksternal kristalisasi yaitu cepat atau lambat, di permukaan bumi, di air, atau jauh di dalam bumi. Kandungan kimia batuan di Islandia mencerminkan asal usul mereka di hot spot di tengah laut. Hot spot seperti Hawaii di Samudera Pasifik yang ditandai dengan banyak jenis batuan yang sama dengan Islandia. Namun ada satu pengecualian yang menarik,  batuan silikat (dasit dan riolit) jauh lebih umum di Islandia daripada di Hawaii, dimana batu tersebut hampir sama sekali tidak ditemukan di Hawaii. Inilah yang menjadi keunikan Islandia dimandingkan dengan pulau-pulau samudra lainnya.
Batuan di Islandia mirip dengan pulau-pulau samudra lain dan beberapa daerah benua basalt, tetapi rasio dari batuan yang tidak biasa dijumpai di Islandia yaitu volume jenis batuan  terbesar adalah basalt ( 90 % ) , kemudian datang batuan silikat ( riolit dan dasit, 6-10 % ), sedangkan batu menengah relatif langka. Sebanyak 25 jenis batuan beku telah ditemukan di Islandia, yang paling umum yang tholeiite, olivin tholeiite, gabro dan riolit . Mineral pembentuk batuan utama dalam tholeiite dan olivin tholeiite adalah plagioklas, augit, olivin, magnetit dan apatit.






DAFTAR PUSTAKA
Susanto, Arif. Diktat Praktikum Petrologi
Tronnes, G.G. Geology and geodynamics of Iceland. Nordic vulcanological Institute, University of Iceland


0 komentar:

Poskan Komentar