Jumat, 04 Januari 2013

Kisah Teladan Seputar Ma’rifatullah

 
Pada zaman Khalifah Umar bin Khaththab, beliau melarang kaum Muslimin untuk melakukan penipuan dalam jual beli air susu. Dan sudah merupakan kebiasaan beliau untuk melakukan insfeksi ke seluruh wilayah perkampungan, guna mengetahui hal ihwal para penduduk kampung. Tiba-tiba beliau sampai ke suatu perkampungan yatng di situ terdapat seorang wanita disertai anak perempuannya yang menjual susu. Terjadilah dialog diantara wanita anak perempuannya :

Ibunya berkata,”Wahai puteriku! Campurlah susu yang akan kita jual itu dengan air.
Puterinya menjawab, ”Bagaimana mungkin aku mencapurkan air ke dalam susu akan kita jual, padahal Amirul Mukminin sudah melarang kita dari perbuatan tersebut”.
Ibunya berkata,”Semua orang dikampung kita itu sudah mencampur susu yang akan mereka jual dengan air, maka tidak ada salahnya kita pun melakukan hal yang sama. Dan yang pasti Amirul Mukminin tidak akan tahu akan hal itu.

Puterinya menjawab dengan tegas,”Wahai ibuku! Walaupun Amirul Mukminin tidak mengetahui perbuatan kita, tidakkah ibu tahu, bahwasannya Allah SWT Maha Mengawasi apa yang tengah kita lakukan? Wahai ibuku! Sungguh aku tidak akan pernah melakukannya.

Berita kisah tersebut sampai kepada Umar bin Khaththab, Amirul Mukminin, dan beliau sangat kagum dan takjub terhadap pendirian dan keteguhan puteri dari wanita itu, sehingga pada hari berikutnya, beliau memanggil puteranya, dan memintanya untuk menikahi puteri dari wanita tersebut, seraya berdo’a,”Semoga Allah SWT melahirkan dari rahim anak perempuan itu generasi-generasi yang baik.

Terbukti dalam sejarah, anak perempuan itu melahirkan generasi yang shalihah yang dinikahi oleh Abdul Aziz bin Marwan, dan terlahir pula dari generasi shalihah tersebut seorang Umar bin Abdul Aziz yang terkenal sebagai khalifah yang adil pada masa Bani Umayah. (Nihayatul Arab karangan An-Nuwairy, 3/238)

Dari kisah tersebut, kita dapat menyaksikan bukti nyata dari keimanan yang kuat yang ditampilkan oleh seorang anak perempuan yang tentunya hal tersebut lahir setelah memahami dengan baik akan eksistensi Allah SWT dalam kehidupan hamba-Nya. Anak perempuan itu sangat yakin, bahwa Allah SWT Maha Mengawasi di manapun dan kapanpun, baik keadaan ramai ataupun sunyi, sehingga membuatnya tidak berani mencampur susu yang akan dijual itu, sekalipun yang menyuruh adalah ibunya sendiri yang melahirkan. 

1 komentar:

Ania Maharani mengatakan...

Inspirasi kejujuran berbuah manis di masa depan

Poskan Komentar