Selasa, 14 Januari 2014

Jenis Erupsi Gunung Berapi


1.      Erupsi Strombolian  
Pada erupsi ini, gunung hanya memuntahkan lava dalam jumlah yang sangat kecil saja. Ketinggian erupsi sekitar 15-90 meter ke udara dengan interval yang pendek. Erupsinya hampir sama dengan Hawaiian berupa semburan lava pijar dari magma yang dangkal. Pada umumnya terjadi pada gunungapi aktif di tepi benua atau di tengah benua. Lava yang dikeluarkan dalam jumlah yang sangat kecil akan membentuk breksi volkanik autoklastik yang terbentuk sebagai akibat letusan gas yang terkandung di dalam lava atau akibat pergerakan lava sebelum mengalami pembatuan. Erupsi yang terjadi sekitar 15-90 meter akan melontarkan material-material padat dan abu vulkanik  ke udara. Karena kontak dengan udara sekitar, maka material akan mengalami pendinginan secara cepat sehingga membentuk struktur yang vesikuler, yaitu adanya lubang-lubang gas pada batuan. Batuan yang umumnya dijumpai dengan struktur yang demikian adalah Batu Scoriaan.

2.      Erupsi Plinial  
Bentuk erupsi Plinial termasuk erupsi yang sangat berbahaya. Letusannya yang dasyat mampu merusak wilayah sekitar gunung dan mengancam nyawa makhluk hidup yang tinggal di sana. Erupsi Plinial ditandai dengan asap tebal yang berterbangan dan kemudian lava mengalir cepat, menuruni lereng-lereng gunung. Lava inilah yang akan menghancurkan apa saja yang dilaluinya. Erupsi Plinial dapat berlangsunga dalam hitungan jam maupun hitungan hari. Erupsi sangat ekslposif dari magma berviskositas tinggi atau magma asam, dimana komposisi magma bersifat andesitik sampai riolitik. Material yang dierupsikan berupa batuapung (pumice) dalam jumlah besar. Erupsi sangat ekslposif dari gunung-gunung bertipe plinial juga dapat menghasilkan ignimbrit. Ignimbrit adalah suatu batuan yang terbentuk dari aliran abu panas.

3.      Erupsi Vulkanian 
Hampir sama dengan erupsi Strombolian, letusan Vulkanian berlangsung dalam interval yang pendek. Tidak terlalu membahayakan karena pada erupsi ini gunung tidak disertai oleh aliran lava seperti erupsi Plinial. Hanya magma kental dan kandungan gas yang cukup tinggi membumbung ke udara saat proses letusan terjadi. Erupsi magmatis berkomposisi andesit basaltik sampai dasit. Pada umumnya melontarkan bom-bom vulkanik atau bongkahan di sekitar kawah permukaannya retak-retak. Material yang dierupsikan tidak hanya selalu berasal dari magma, tetapi bercampur dengan batuan samping berupa litik. Batuan piroklastik yang terbentuk akibat erupsi ini dapat berupa batu agglomerate. Agglomerate diartikan sebagai batuan yang terbentuk dari hasil konsolidasi material yang mengandung bomb.

4.      Erupsi Hawaiian
Erupsi Hawaiian sesungguhnya erupsi yang tidak berbahaya. Hanya saja, saat letusan terjadi lava bergerak lamban sehingga memungkinkan warga disekitar pegunungan sempat mengungsikan diri ketempat yang lebih aman. Erupsi ini ditandai dengan semburan lava seperti kembang api keudara. Lalu perlahan-lahan lava akan keluar dari bebrapa lubang di permukaan gunung dan mengalir hingga membentuk kawah atau kolam-kolam lava disekitarr gunung. Disebut erupsi hawaiian karena letusan seperti ini sering terjadi di peguningan kepulauan Hawaii. Jarang ditemukan batun piriklastik, karena erupsi jenis ini bersifat efusif.

5.      Erupsi Hidrovulkanik

Gunung di bawah samudra sangat berpotensi menghasilkan erupsi hidrovulkanik. Ledakan dalam air membuat bumbungan asap tidak berlangsung lama. Namun geteran yang diciptakan mampu memicu terjadinya lonsor dan banjir bandang.

0 komentar:

Poskan Komentar