Jumat, 04 Januari 2013

Hakekat Insan (Manusia)


  
Manusia itu terdiri dari ruh dan jasad. Dan ruh yang hidup dalam daging dan tulang-belulang, ia memiliki nilai lebih besar daripada seluruh alam kebendaan. Meskipun ruh dan jiwa berkaitan dengan jasad yang berupa benda, namun adanya manusia adalah berkat adanya ruh. Dan ruh adalah asal dan sumber kepribadian manusia, seolah-olah seluruh alam wujud ini diciptakan Allah SWT untuk membentuk manusia agar dapat mengenal hakekat dirinya.

Ruh manusia itu berasal dari alam arwah (alam yang hakikatnya tidak dapat diketahui oleh manusia di mana tempatnya), sedangkan jasmani berasal dari tanah. Setelah keduanya digabung menjadi satu, manusia dimasukkan ke alam yang ke dua yaitu alam rahim (alam kandungan). Setelah terlahir dari perut ibunya, manusia memasuki alam ke tiga yaitu alam dunia (alam fana). Di alam dunia ini manusia akan tinggal untuk sementara sesuai dengan jatah umur yang diberikan oleh Allah SWT.

أَوَلَمْ يَتَفَكَّرُوا فِي أَنفُسِهِم مَّاخَلَقَ اللهُ السَّمَاواتِ وَاْلأَرْضَ وَمَابَيْنَهُمَآ إِلاَّ بِالْحَقِّ وَأَجَلٍ مُّسَمَّى وَإِنَّ كَثِيرًا مِّنَ النَّاسِ بِلِقَآئِ رَبِّهِمْ لَكَافِرُونَ.

Dan mengapa mereka tidak memikirkan tentang (kejadian) diri mereka?, Allah tidak menjadikan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar dan waktu yang ditentukan.Dan sesungguhnya kebanyakan diantara manusia benar-benar ingkar akan pertemuan dengan Rabbnya. (QS. Ar-Rum (30) : 8).
Kemudian setelah manusia mati, baik secara husnul khatimah maupun suul khatimah, ia akan memasuki alam ke empat, yaitu alam kubur (alam barzakh).
Di alam ke empat ini manusia akan tinggal sampai tiba hari kiamat atau hari kebangkitan (yaumul ba’ts). Setelah dibangkitkan kembali, manusia akan memasuki alam yang ke lima yaitu padang Mahsyar. Dan di padang Mahsyar inilah semua manusia akan mempertanggungjawabkan seluruh amal perbuatannya selama hidup di dunia.

Apabila ia berbuat baik selama hidupnya, maka surgalah bagiannya, dan apabila selama hidupnya banyak berbuat maksiat, maka nerakalah yang akan menjadi tempat kedudukannya. Surga dan neraka adalah alam yang ke enam setelah alam Mahsyar.
Islam menghendaki supaya manusia, selama hidup di dunia selalu berada pada martabat yang luhur. Islam memandang, bahwa manusia sebagai makhluk hidup yang memiliki roh, akal dan hati. Islam juga hendak meningkatkan manusia dari makhluk yang hanya memiliki rasa indra seperti alam tumbuh-tumbuhan, alam hewani dan terus meningkatkannya, sehingga menjadi makhluk yang berakal, berperasaan dan rasa indra. Islam menghendaki, agar manusia menjadi anggota yang berdaya guna bagi masyarakatnya.
Dengan akal yang dimilikinya, dalam pandangan Islam, manusia tidak hanya dimuliakan karena ia berbeda dari makhluk yang lainnya, akan tetapi ia dimuliakan karena kualitas kehidupannya di dunia. Kualitas kehidupan manusia tersebut, ditentukan oleh kualitas dan kuantitas pengabdiannya kepada sang pencipta, Allah SWT; karena pada dasarnya manusia diciptakan hanya untuk mengabdikan diri kepada Allah SWT. Semakin baik pengabdiannya kepada Allah SWT, maka ia akan semakin baik dan mulia kedudukannya di sisi Allah SWT. Akan tetapi apabila manusia itu tidak sanggup memerankan sebagai hamba Allah yang baik yang selalu meningkatkan pengabdian kepada-Nya, maka ia akan lebih hina sekalipun harus dibandingkan dengan makhluk Allah yang bernama hewan.
Oleh karena itu, maka sudah seharusnya sebagai manusia yang beriman mengoptimalkan anugerah Allah SWT berupa pendengaran, penglihatan dan hati untuk mendengar, melihat dan memahami ayat-ayat Allah SWT, agar keimanan senantiasa bertambah, sehingga terus bersemangat untuk membelkali diri dengan ketakwaan atau pengabdian kepada Allah SWT dalam rangka menyongsong kehidupan yang abadi di akhirat kelak dengan penuh kebahagiaan dan kesejahteraan.

Sesungguhnya, tidak ada lagi perbekalan yang akan meninggikan derajat manusia di dunia dan di akhirat kelak, kecuali bekal ketakwaan, sebagaimana firman Allah SWT,

وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى وَاتَّقُونِ يَاأُوْلِي اْلأَلْبَابِ.

Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah taqwa dan bertaqwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal. (QS. Al-Baqarah (2) :197)

0 komentar:

Poskan Komentar