Jumat, 04 Januari 2013

Kisah Teladan Seputar Ma’rifatul Islam



Pada suatu ketika, seorang yang berkebangsaan Ingris yang bernama Brawn, ia melakukan kunjungan ke negeri India, dan kunjungan tersebut merupakan yang pertama kali ia lakukan. Ketika ia berjalan-jalan sambil memperhatikan keadaan sebagian perkampungan di India, tiba-tiba ia merasa kehausan dan dilihatnya seorang petani India tengah membawa air minum, kemudian ia meminta air minum kepadanya.

Namun ketika petani tersebut melihat, bahwa yang meminta air padanya itu seorang berkebangsaan Ingris, ia tidak memiliki keinginan sedikitpun air minum kepadanya, sehingga Brawn melanjutkan perjalanannya sambil menahan rasa haus. Setelah beberapa langkah, si petani India itu membuang air minum dan gelasnya, lalu menginjak-injaknya. Melihat pemandangan seperti itu Brawn merasa terkejut dan bertanya-tanya dalam dirinya, namun ia tidak berkomentar sedikitpun, dan terus melanjutkan perjalanannya.

Pada hari berikutnya, ia kembali melakukan perjalanan di perkampungan yang berbeda, tiba-tiba ia kembali merasa kehausan dan didapatkannya pula seorang petani yang secara kebetulan tengah membawa air minum seperti petani yang pertama kali dijumpainya. Kemudian ia meminta minum kepadanya dan petani ini segera memberinya air minum.

Setelah Brawn minum air tersebut, ia pergi dari petani itu dengan tetap mengawasinya untuk mengetahui, apakah petani tersebut membuang gelas bekas ia minum seperti petani yang pertama ataukah tidak?

Ternyata Brawn mendapatkan pemandangan yang berbeda, petani tersebut tidak membuang gelas bekas ia minum, melainkan ia menyimpankannya kembali ke tempat semula dan tidak menghancurkannya, lalu Brawn bertanya kepada penduduk setempat terkait dengan dua pemandangan yang berbeda itu.

Dikatakan kepada Brawn, bahwa petani yang pertama adalah seorang penyembah berhala, yang mana ia tidak rela selain dari pemeluk agamanya minum air dari gelas yang dibawanya. Adapun petani yang ke dua, ia adalah seorang Muslim.
Kemudian Brawn (setelah masuk Islam ia menamakan dirinya dengan Abdullah) berkata dalam dirinya,”Aku merasa bahwa diriku harus lebih jauh mengenal Islam, maka aku membaca terjemah Al-Qur`an, kemudian membaca kisah perjelanan hidup Rasulullah SAW, lalu setelah itu aku masuk Islam.”

Dari kisah ini, kita dapat mengambil ibrah (pelajaran), bahwa yang menyebabkan Brawn masuk Islam adalah akhlak yang mulia dari petani Muslim India tersebut. Maka apabila setiap Muslim berakhlak Islami, niscaya hal itu akan menjadi media dakwah dakwah yang paling kuat. Sehingga sangat wajar jika muncul ungkapan yang menyatakan,”Seorang Muslim akan menjadi bukti nyata dari kebenaran ajaran Islam dengan memilih akhlak yang mulia, dan ia akan menjadi penghujat bagi Islam manakala memilih akhlah yang tercela; karena sesungguhnya orang yang selain Muslim akan lebih banyak membaca Islam dari kepribadian (syakhsiyyah) Muslim yang nyata, dan tidak akan membaca lebih banyak dari buku-buku Islam yang ditulis oleh orang-orang Muslim itus sendiri.
Nampak jelas bagi kita, bahwa ketika kita hendak menjadi seorang Muslim yang bak, dan mengajak orang lain untuk mengikuti langkah kita, maka ajaran Islam harus menjadi penghias keseharian kita; karena tanpa itu semua keislaman kita hanya tinggal nama saja. 

0 komentar:

Poskan Komentar